header image

Whattttt???!!!

Posted by: -aNNa- | November 24, 2008 | 5 Comments |

Dhuuueeeerrrr!!!!!

Rasanya seperti kilat dan halilintar menyambar tepat di depan mataku! Antara marah, kaget, dan pastinya sediiiihhhh :((

Pepatah bilang sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh ke tanah juga, sepandai-pandainya menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga. Serapi apapun rahasia itu tersimpan, akhirnya akan terkuak juga!

Iyaaaah!!! Tuhan punya cara tersendiri utk menunjukkan kebenaran! Dan hari ini secara sangat tak sengaja aku dihadapkan pada kebenaran itu! Kebenaran yg menyakitkan! Sangat….

Why? Krn aku orang yg paling benci dibohongi! Apalagi oleh sahabatku sendiri, orang yang paling aku percaya….

Oh dear friend…. I guess this is it! I think I have lost a friend! I guess I’ve lost u, have I???

Ya sudahlah…. As u always said to me, life is a matter of choices, isn’t it??

Perhaps its just me, who can’t deal with those changes. As I see that u have changed a lot! Indeed…..

under: Uncategorized

The Women!

Posted by: -aNNa- | November 20, 2008 | No Comment |

“What would u do if your man cheating on u? or if he’s hiding something from u?? or perhaps worst, hiding from u???”

Film re-make yg br kutonton minggu lalu, dan yg jelas ini film cewek banget!! Sepanjang alur film dr awal smpe akhir nyaris tidak ada satu cowokpun yg ketangkep kamera. Sepertinya cmn sekali aja ada cowok kena shoot itupun cmn numpang lewat tanpa sepatah kata pun!! Woouww…  garing men! :D Beda banget ma Quantum of Solace yg brsn kutonton kemaren. Lah wong si aktris utamanya aja macho banget! Hehehe :P
Back 2 “The Women”, sebenarnya bukannya pengen ngreview ni film. Overall, film ini emang di luar ekspektasi jg sih. Dgn taburan bintang yg ikut didalamnya seharusnya ni film bs jauh lebih menarik. Anyway, tetep ada bbrp hal yg cukup menarik n sempat kesentil dipikiran ketika nonton kmrn.  Mengangkat cerita klasik ttg persahabatan 4 wanita dgn segala dinamikanya, bukan ide yg baru memang. Ada kisah ttg salah satu tokoh yg diperankan Meg Ryan, yg secara tak sengaja mendapati kenyataan bhw suami yg sangat dipercayainya ternyata selingkuh! Kembali pada pertanyaan di atas, what should she do then? Nalurinya sbg seorang perempuan yg tersakiti pastinya lgsg marah2 pd suaminya n nglabrak abis2an si cewek. But she didn’t! Atas saran dr ibundanya dia lebih memilih diam, pura2 tidak tahu! Memilih utk pergi sejenak dr suaminya dgn harapan sang suami akan merasa kehilangan, lalu meninggalkan selingkuhannya, dan kembali mengemis cinta padanya! Namun sayang, nyatanya yg terjadi tidaklah seperti harapannya. Pada satu titik akhirnya tokoh yg diperankan Meg Ryan ini lebih memilih utk mengakhiri hub dg suaminya. Titik kompromi sudah mencapai batas, there’s nothing left worth to keep on. Then she just moves on with her own life.

Hmm… lantas dimana letak menariknya? Yg menarik adalah berpikir bgmn caranya kita merespon pertanyaan di atas, seandainya kita yg ada dlm posisi Mary Haines, tokoh yg diperankan Meg Ryan ini? Memilih utk diam, pura2 tidak tahu, pergi sejenak dan berharap smua akan kembali baik2 saja, sepertinya terdengar pilihan yg cukup bijak drpd lgsg nglabrak dan marah2 (dan ini yg slalu jd pilihan pertamaku! Hehehe). Waiiitttt…..bijakasana??? Benarkah???? Hmmmm….

Lets think ‘bout it.  Jadi inget WHAT OPRAH HAD TO SAY ABOUT MEN:

* If a man wants you, nothing can keep him away. If he doesn’t want you, nothing can make him stay. Stop making excuses for a man and his behavior. Allow your intuition (or spirit) to save you from heartache. Stop trying to change yourself for a relationship that’s not meant to be. Slower is better. Never live your life for a man before you find what makes you truly happy.

And if a relationship ends because the man was not treating you as you deserve then heck no, you can’t  ”be friends”. A friend wouldn’t mistreat a friend. Don’t settle. If you feel like he is stringing you along, then he probably is. Don’t stay because you think “it will get better”. You’ll be mad at yourself a year later for staying when things are not better.

Hahaha… She could be so so right isn’t it?? Stop making excuses! Bahwa kadang cinta memang buta memang begitulah adanya. Hati dan otak menempati ruang yg berbeda, tak selamanya bisa bersama sejalan. Namun mencoba menghadapi kenyataan itu juga harus dipelajari. Tak selamanya semua hal berjalan seperti yg kita harapkan. Jangan letakkan asa terlalu tinggi, jangan melompat terlalu tinggi, krn klo jatuh pastinya rasanya lebih sakit. Pelajaran yg mudah diingat bukan?? Tapi bodohnya (aku), saat dibutuhkan malah sering kali lupa!!!

Well, just be smart girl! A relationship consists of two WHOLE individuals. Look for someone complimentary, not supplementary. Dating is fun…even if he doesn’t turn out to be Mr. Right.

===========

*dedicated for a woman, a friend of mine. (and of course for me too :D)


Berhentilah berlari dari kenyataan. Hadapi. Rasakan sakitnya. Cari obatnya! Somehow it will make u stronger. It hurts, indeed! But we have to make choices, don’t we?? Hope u (and me) can get through it, girl :)

under: Film

Setelah disahkan, what next???? We’ll see….

Posted by: -aNNa- | November 1, 2008 | No Comment |

Hmmmm… benernya udah capek n males banget nimbrung ngomongin lg masalah satu ini. cmn kok ya disela kejar2an dgn deadline thesis submission masih tergelitik juga utk sekedar kembali berkomentar ttg issue ini (lagi). dikit aja dech… hwehehehe… :D

Hebat memang UU Pornografi ini! melalui perdebatan yg sangat panjang dan proses yg sangat tidak singkat, tercatat sejak 1997 saat Suharto masih berkuasa, means more than 10 thn!!! Jelas2 bukan isu yg baru! But its amazing how we can see mulai dari politisi, para kaum intelektual di perguruan tinggi, artis, dr pejabat sampai pekerja kasar, obrolan2 ringan di public transport, sampai anak2 usia sekolah pun masih begitu asyik berdiskusi tentang UU ini. Milis2 pun tak kalah semarak oleh diskusi pro kontra dgn sederet argumen2 cerdas, bahkan setelah RUU sudah disahkan menjadi UU!! Luar biasa… as far as I know barangkali ini satu2nya UU yg mampu melibatkan smua kalangan turut ribut berbicara, UU yg mampu membuat repot dan kalang kabut para anggota DPR yg terhormat sampai meminta dukungan ke mana2 untuk mengetok palu pengesahannya. Kesan yg tertangkap, napa yak kok DPR seolah begitu ketakutan?? lah sadar fungsi gak mrk duduk di dewan itu utk apa? lagian sudah resikolah duduk di “kursi” yg katanya nyaman itu psti byk kritik dan tantangan. Seharusnya mrk lebih takut dikritik krn banyak korupsi, menghisap uang rakyat drpd ketakutan krn mengesahkan UU Pornografi! :P

Apa tho yg sebenarnya paling bermasalah dr UU ini?? Anda akan mendapatkan jawaban yg berbeda-beda dari sudut pandang yg berbeda pula. Rasanya saya sepakat ini bukan soal setuju atau tidak setuju pada pornografi itu sendiri namun lebih masalah substantif materi UU-nya. Disahkan ataupun tidak ini bukan semata soal kalah menang. Sebagian ada yg takut nantinya UU ini akan mematikan kreasi seni dan budaya daerah, bertentangan dgn HAM, bentuk lain diskriminasi bahkan kriminalisasi thd perempuan, dan yg paling merakyat, ketakutan nantinya akan ada sweeping ttg pola berpakaian masyarakat umum. Hmmm… tidakkah ketakutan yg terlalu berlebihan???

Satu hal yg jelas, masalah pornografi jelas bukan semata sekedar masalah moral! Kajian2 ilmiah pun sudah membuktikan pornografi dan pornokasi berkorelasi sangat erat dgn permasalahan2 sosial (aborsi, pedophilia, pelecehan seksual dll). Pun menurut pendapat saya, saya kira seniman2 kita cukup kreatif utk tidak mengembangkan bakat seni terbatas pada konteks yg bias pornografi. Agaknya akan lebih baik kita melihat UU ini lebih positif. Ini memang bukan UU yang sempurna (meski dlm hati sering berpikir, mestinya para anggota DPR yg bergaji tinggi itu mampu menciptakan produk UU yg sedikit lebih detail sehingga tidak bias makna :P ). Namun inilah produk hukum, seperti pisau bermata dua, bisa menikam sekaligus dari dua sisi. Sesempurna apapun tetap memungkinkan adanya celah yg dpt dimaanfatkan oleh kepentingan yg berbeda. Anyway saya sepakat bagaimanapun substansi penyusunan UU ini adalah demi kebaikan bersama, utk menentang deras arus pornografi yg telah menciptakan efek domino penyakit sosial. Ada baiknya kita tidak terjebak dgn ketakutan2 yang berlebihan akan pelaksanaan UU ini.

Well, inilah kita, potret bangsa yg begitu majemuk dgn ke bhinneka-an nya. Sangat sulit (klo tak boleh dibilang tidak mungkin) menyatukan semua aspirasi dalam satu wadah. Inikah konsekuensi demokrasi??? Yups…mungkin……! suka gak suka, adil gak adil “pokoknya” demokrasi?!!! pemenang adalah suara terbanyak. yg pilih walk out ya monggoo… hehehe :D

Jauh dari hiruk pikuk pelaksanaan UU ini di negara tercinta di seberang sana, sy cm bs berharap dan berdoa semoga UU ini bs dimaknai secara positif, diterapkan sebagaimana mestinya. UU adalah sebuah alat, bukan tujuan akhir. Dalam prosesnya kita akan sama2 belajar dan menjadikannya lebih baik. Semoga tidak menambah lagi rentetan produk mubadzir krn sudah cukup byk “harga” yg harus dibayar untuk pengesahan UU ini. Amiiinnn amiiiinnn yaa robbal ‘alaamiiiinnnnn…..:)

Anna,

* yg begitu pesimis & skeptis, namun tetap menyimpan secercah harapan :)

under: Uncategorized

Maaf…. Kawan!

Posted by: -aNNa- | October 23, 2008 | 2 Comments |

Aduuuhh… nyesseeeeelllll

seems that I’ve done a terribly mistake today!

maaph maaph beribu maaffffff!

I really didn’t mean to hurt u friend, u know it.

It was just “slip words” in our last chat! trust me….

I do realize that somehow forgiveness might not change the past, but I hope it does enlarge the future!

Friend, oh… friend,

“Sometimes you put walls up not to keep people out, but to see who cares enough to break them down.”

skali lagi ngapunteeennn……

under: Uncategorized

My day, yesterday!

Posted by: -aNNa- | September 21, 2008 | No Comment |

Mengawali hari, tepat saat jam berganti beranjak dari tengah malam, as usual bbrp ucapan selamat dtg from my beloved best friends. Malah ada yg maksa mengawali bbrp jam sebelumnya, pi malah jadi ngrapel ngucapin bbrp kali! huehehehe
Thanks yah mates… By you I know I’ll never walk alone :)
Well, actually nothing special on that day. Just spent my time in front on laptop writing up the bloody thesis! shopping in the afternoon, n then back to thesis again! No flowers this year, but I did get a special gift! Its the time when my 2 best friends came to see my mom, being my eyes to make sure that she just fine there (plus bw byk oleh2 lagi! qeqeqe). Matur nuwun sanget…. u know it means a lot to me…^_^
Any special wishes this year?? salah seorang tmn bertanya. hmmm… udah terlalu banyak doa yg kupinta padaNya akhir2 ini, Terutama krn ini bulan suci Ramadhan. Tp tetap ada satu doa yg ku khususkan di hari itu, satu doa, semoga selanjutnya aku menjadi manusia yg lebih bermanfaat, untuk bangsaku, sesamaku, masyarakat sekitarku, keluargaku dan terutama utk kedua orang tuaku. Krn sebaik baik manusia, adalah manusia yg bermanfaat bagi orang lain.
Amin amin amin ya robbal ‘alamin…:)

btw thanks a lot friends for the calls, the sms’, emails and all the greetings in my FS, FB and MP.

luv u all….mmwaaaaaah!!!
under: Uncategorized

A reply 4 a message

Posted by: -aNNa- | September 4, 2008 | 1 Comment |

Baru2 ini aku mendapat kritik dr seorang sahabat,

“An, jgn terlalu naif memandang sesuatu y! kadang km tu orangnya terlalu apatis namun pada saat yg sama terlalu positif menilai sesuatu. jangan keseringan menghindar dari sesuatu yg ‘hitam’ hanya krn km sibuk
mencari sisi ‘putih’-nya, krn paling2 yg nanti km temui justru hanya abu2″

itu bunyi salah satu sms yg kuterima darinya. dan kujawab dgn singkat saja: “hehehe…iya ta? I’ll think ’bout it later! mo bo2 dl nie, ngantuk! zzZZzz”.

And I do really think about it now! iyah, dia benar. iya, in some cases,  aku  memang apatis,  males mikir yg macem2 yg aku anggap gak penting. jdnya kadang cuek n gak pedulian! (just in some cases loo :P)

menghindar dari sesuatu yg “hitam”?? hehehe..mgkn itu analogi yg dia pake utk
sekedar bilang, jgn suka lari dari masalah! :D Dan skali lagi dia mungkin benar. Aku lebih suka berpikir dan mencari2 celah knapa hal yg ‘tak menyenangkan’ itu terjadi daripada menghadapinya langsung. muter2 mikir, sampai pada titik mengambil kesimpulan sendiri, aahh…biarin ajalah! pasti ada alasan dibalik semua kejadian. sesuatu menjadi ‘negatif’ or ‘positif’ kan tergantung kita yg menilainya. dan memang, aku lebih suka mencari sisi2 ‘positif’nya daripada menyiapkan ‘keberanian’ diri utk menghadapi  sisi negatifnya!

alasannya simple aja sebenarnya. males n capek! klo smua mua hal mesti aku telaah satu persatu, dimasukin ati, diliat sisi negatifnya, ndengerin sana sini, ngikutin perasaan,  bisa edan sendiri aku!

tiap orang hidup pasti punya masalah, dgn berbagai macam jenis dan bentuk,
pun dgn standar yg berbeda dalam menghadapi ‘n mencari solusinya. barangkali aku cmn meminimalisir apa-apa yg aku definisikan sbg ‘masalah’, tanpa bermaksut lari darinya. (ngeles mode ON :D) Lha wong berusaha diminimalisir aja udah puyeng gak karuan gini! hwehehehe

However, I got your point mate! ada kejadian hari ini yg memberiku pelajaran. A
bit reflection for me today, “Keeps thinking positive, but always prepare for the worst!” coz ‘black’ really does exist, next to white and grey. Well, its funny how from simple thing I got such a ‘great’ lesson!
(^_^)

=======

nb:  See….?? I intend to reply your message! hehehe :P

under: Uncategorized

Changes????

Posted by: -aNNa- | July 25, 2008 | 2 Comments |

You might said that the only constant is change.
Change is inevitable, adapting to change is unavoidable.
Well, the world (including me!) hates change! Yet it is the only thing that has brought progress :(

Dealing with changes? never gonna be that easy!

hmm..
It’s supposed to be easy, once I thought
But never thought gonna be this hard
I hate those moments, these kind of feelings
But I’m gonna be just fine soon
I hope….

Coz if nothing ever changed, there’d be no butterflies :)

under: Uncategorized

my little princess….

Posted by: -aNNa- | April 3, 2008 | 1 Comment |

Tete…

Kok tete anna lama gak puyang2 seh te? 

Putri kangen ma tete

Rumahnya tete skrg jauh ya sama rumah Putri? 

Putri skrg udah gak nakal lho te!“

Gak nangisan

Udah gak marah2 sama mama

gak pernah mukul2 mama kok

jadi…

jadi… 

putri boleh ya nantik maen ke rumahnya tete anna?“

putri brani kok te naek pesawat

“tete anna skrg ndek dalem pesawat tah?? “

pokoknya nanti… nanti, kalo tete anna punya rumah baru, putri ikut pindah ya te? “

“boleh ya te??”

“ntik putri belajar sama tete anna yoo?”

=====================

 

hmmm….

a small morning chat with my little princess, yesterday….

 

ada yg aneh dgn telp itu.

biasanya… dia cmn ndengerin tantenya ini bicara n baru jawab sekenanya.

tp kmrn dgn lancarnya dia pny inisiatif ngomong sendiri, mengeluarkan patahan2 kalimat itu sendiri

ntah ada ide dr mana dia ucapkan satu persatu kata2 itu

membuatku hanya terpana dan terpaku mendengar suara mungilnya itu

 

ooh God…!! miss her a lot!!


S4024694

 


“iya sayang….. tete anna juga kuangen banget sama putri…..”

under: Uncategorized

Gunung Jangan Pula Meletus

Posted by: -aNNa- | March 5, 2008 | No Comment |

Sebuah puisi lama karya Emha Ainun Nadjib. namun masih menarik sebagai bahan renungan……

=====================

Gunung Jangan Pula Meletus

oleh: Emha Ainun Nadjib

KHUSUS untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai Sudrun. Apakah
kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan
kedalaman dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung
nilai-nilai kandungannya?

Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan
dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa
kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, barang siapa
tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para
korban yang jiwanya luluh lantak terkeping- keping, akan kubunuh.

"Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh!," aku menyerbu.

"Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran," Sudrun menyambut dengan kata- kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati.

"Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?"

"Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh dinikahkan dengan surga."

"Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan paling
menderita dibanding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke
kubangan kesengsaraan sedalam itu?"

"Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya
sehingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan
untuk terus menjalani kerendahan."

"Termasuk Kiai…."

Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini. Sejak dahulu kala. Kuusap dengan kesabaran.

"Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa
tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu
ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan
rakyat Aceh selama ini, di tengah perang politik dan militer tak
berkesudahan?"

Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari kata-kataku. Badannya terguncang-guncang.

"Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan Tuhan? Mempersalahkan ketidakadilan Tuhan?" katanya.

Aku menjawab tegas, "Ya."

"Kalau Tuhan diam saja bagaimana?"

"Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa Indonesia akan terus mempertanyakan."

"Sampai kapan?"

"Sampai kapan pun!"

"Sampai mati?"

"Ya!"

"Kapan kamu mati?"

"Gila!"

"Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu
mempertanyakan kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di
Aceh. Kamu bahkan tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima
menit mendatang. Kamu juga tidak tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu
pengecut. Untuk apa mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidak
melawanNya. Kenapa kamu memberontak secara tegas kepada Tuhan. Kami
menyingkir dari bumiNya, pindah dari alam semestaNya, kemudian kamu
tabuh genderang perang menantangNya!"

""Aku ini, Kiai!" teriakku, "datang kemari, untuk merundingkan
hal-hal yang bisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah
diktator dan otoriter…."

Sudrun malah melompat- lompat. Yang tertawa sekarang seluruh tubuhnya. Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku.

"Kamu jahat," katanya, "karena ingin menghindar dari kewajiban."

"Kewajiban apa?"

"Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan
otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu
belajar menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan
mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu-satunya yang ada, yang berhak bersikap
diktator dan otoriter, sebagaimana pelukis berhak menyayang lukisannya
atau merobek-robek dan mencampakkannya ke tempat sampah. Tuhan tidak
berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang kepada siapa-siapa, dan
keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun. Tuhan tidak terikat
oleh baik buruk karena justru Dialah yang menciptakan baik buruk. Tuhan
tidak harus patuh kepada benar atau salah, karena benar dan salah yang
harus taat kepadaNya. Ainun, Ainun, apa yang kamu lakukan ini? Sini,
sini…"-ia meraih lengan saya dan menyeret ke tembok-"Kupinjamkan
dinding ini kepadamu…."

"Apa maksud Kiai?," aku tidak paham.

"Pakailah sesukamu."

"Emang untuk apa?"

"Misalnya untuk membenturkan kepalamu…."

"Sinting!"

"Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh."

Ia membawaku duduk kembali.

"Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk
manusia menurut pertimbanganmu?," ia pegang bagian atas bajuku.

"Kamu tahu Muhammad?", ia meneruskan, "Tahu? Muhammad Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallah, tahu? Ia manusia mutiara yang
memilih hidup sebagai orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih
dari tiga hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan lagi. Ia
menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri. Panjang
rumahnya 4,80 cm, lebar 4,62 cm. Ia manusia yang paling dicintai Tuhan
dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang kampung Thaif
diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya berdarah. Ia
bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat panas badan oleh racun Zaenab
wanita Yahudi. Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan mati diracun
istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua dibiarkan oleh Tuhan dipenggal
kepalanya kemudian kepala itu diseret dengan kuda sejauh ratusan
kilometer sehingga ada dua kuburannya. Muhammad dijamin surganya,
tetapi ia selalu takut kepada Tuhan sehingga menangis di setiap
sujudnya. Sedangkan kalian yang pekerja

annya mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yang politik
kalian busuk, perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah,
menginginkan nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan kalau kalian
ditimpa bencana, Tuhan yang kalian salahkan?"

Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga saya jatuh ke belakang.

"Kiai," kata saya agak pelan, "Aku ingin mempertahankan keyakinan
bahwa icon utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan Rahim…."

"Sangat benar demikian," jawabnya, "Apa yang membuatmu tidak yakin?"

"Ya Aceh itu, Kiai, Aceh…. Untuk Aceh-lah aku bersedia Kiai ludahi."

"Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang terjadi adalah bahwa kamu pantas diludahi."

"Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu…."

"Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta sosial, Rahim cinta lubuk hati. Kenapa?"

"Aceh, Kiai, Aceh."

"Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh dari bawah
bumi. Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera
dipisahkan oleh Tuhan dari dunia. Ribuan malaikat mengangkut mereka
langsung ke surga dengan rumah-rumah cahaya yang telah tersedia. Kepada
saudara- saudara mereka yang ditinggalkan, porak poranda kampung dan
kota mereka adalah medan pendadaran total bagi kebesaran kepribadian
manusia Aceh, karena sesudah ini Tuhan menolong mereka untuk bangkit
dan menemukan kembali kependekaran mereka. Kejadian tersebut dibikin
sedahsyat itu sehingga mengatasi segala tema Aceh Indonesia yang
menyengsarakan mereka selama ini. Rakyat Aceh dan Indonesia kini
terbebas dari blok-blok psikologis yang memenjarakan mereka selama ini,
karena air mata dan duka mereka menyatu, sehingga akan lahir keputusan
dan perubahan sejarah yang melapangkan kedua pihak".

"Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban sukar dibayangkan akan mampu tertanggungkan."

"Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang
yang tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak
selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu. Kalau
bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna, dan nyawa tidak melayang,
itulah kebaikan; sementara yang sebaliknya adalah keburukan-
berhentilah memprotes Tuhan, karena toh Tuhan tak berlaku di dalam
skala berpikirmu, karena bagimu kehidupan berhenti ketika kamu mati."

"Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa,
sementara membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat
hidup nikmat sejahtera?"

"Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di
neraka kelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu mereka
memperbanyak dosa dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh
negerimu yang baik yang justru Tuhan bersegera mengambilnya, sementara
yang kamu doakan agar cepat mati karena luar biasa jahatnya kepada
rakyatnya malah panjang umurnya?"

"Gusti Gung Binathoro!," saya mengeluh, "Kami semua dan saya
sendiri, Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir
setakaran dengan yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan."

"Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola
perilaku Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan terus
penyakit itu sehingga politiknya memuakkan, ekonominya nggraras dan
kebudayaannya penuh penghinaan atas martabat diri manusia sendiri-maka
Tuhan justru menambahi penyakit itu, sambil menunggu mereka dengan
bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat. Yang di Aceh bukan bencana
pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan bagi mereka yang nyawanya
diambil malaikat, serta pencerahan dan pembangkitan bagi yang masih
dibiarkan hidup."

"Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai ketidakadilan…."

"Alangkah dungunya kamu!" Sudrun membentak, "Sedangkan ayam menjadi
riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan manusia
meski ayam tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia sedang riang
dan bersyukur."

"Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera hidupnya?"

"Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka
sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan
berturut-turut, baik berupa bencana alam, teknologi dan manusia, dengan
frekuensi jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tetapi,
karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin itu menjadikan Tuhan
mengambil keputusan untuk memberi peringatan dalam bentuk lebih
dahsyat. Kalau kedahsyatan Aceh belum mengguncangkan jiwa Jakarta untuk
mulai belajar menundukkan muka, ada kemungkinan…."

"Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!" aku memotong, karena ngeri membayangkan lanjutan kalimat Sudrun.

"Bilang sendiri sana sama gunung!" ujar Sudrun sambil berdiri dan ngeloyor meninggalkan saya.

"Kiai!" aku meloncat mendekatinya, "Tolong katakan kepada Tuhan
agar beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam…."

"Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau salahkan adalah Tuhan, kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?"

Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.

under: Uncategorized

Tanah Airku……….

Posted by: -aNNa- | March 4, 2008 | No Comment |

Sedih….
Prihatin….

Beberapa hari mendengar dan membaca kabar dari tanah air tercinta yang selalu dirundung duka. Derita Saudara kita yang tak lepas dari bencana alam banjir, tanah longsor, gempa, lumpur…..

Ada berita menyedihkan tentang seorang Ibu hamil dan putranya yang meninggal dengan tragis.  Diare akut karena kelaparan telah merenggut nyawa mereka. Ny. Basse dan putranya meninggal  setelah tiga hari tidak pernah menelan sebutir nasipun!! Mereka, yang bertahan dengan penghasilan 5-10rb rupiah perhari. Mereka, yang kalau makan kuahnya memakai minyak bekas penggorengan. Mereka, yang  hanya makan garam karena tidak punya uang untuk beli ikan. Mereka, yang dalam rumah sederhananya sering terdengar tangisan anak bersahut2an.
Saat membaca berita itu aku hanya tertegun sambil bertanya-tanya, Indonesia?? KELAPARAN?? Sudah separah itukah???

Hari ini kembali membaca sebuah berita yang tak kalah memilukan. “Karena LAPAR, anak pintar itu bunuh diri” Oooh!!! Seorang bocah bernama Teguh, nekat mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri, karena tak kuat menahan sakit maag akut, lagi-lagi, karena KELAPARAN!!! Dia, seorang bocah yang  hidup dalam kemiskinan, diasuh seorang nenek yang memiliki keterbatasan penglihatan. Dia yang kerap berperang melawan sakit diperutnya. Dia yang tergolong siswa cukup pintar di kelasnya, akhirnya tak tahan dengan semua derita itu, memilih mengakhiri rasa sakit dan kemiskinan itu dengan caranya sendiri!!
Kali ini aku tertegun lebih lama, tak terasa air mata inipun menetes….

Aaaaaagh….. aku jadi sungguh malu pada diriku sendiri. Baru menghadapi keruwetan seputar kuliah saja sudah nyaris putus asa. Ada masalah datang selalu disambut dengan keluhan. Diberi sedikit cobaan hidup, sudah berani mempertanyakan di mana letak keadilan Tuhan??
Sementara aku, aku hidup dalam keluarga bahagia yang meski tak kaya tapi juga tak kekurangan. Aku yang tiap hari selalu punya cukup makanan di meja makan. Aku yang begitu beruntung telah mempunyai pekerjaan tetap. Aku yang lebih beruntung lagi mendapat kesempatan sekolah lagi di negeri ini. Aku yang selalu punya orang-orang yang menyayangiku disekelilingku. Aku, aku seharusnya tak pantas mengeluh apalagi sampai putus asa!!! Sungguh tak pantas…..

Tak lagi aku bertanya-tanya benarkah di tanah air sana ada kelaparan?? karena memang begitulah faktanya…
Sudah separah itukah?? PASTI!! masih banyak bbrp Ny. Basse lain di negeri kita, pun Teguh Teguh yang lain yg sedang berjuang untuk hidup saat ini
Negaraku yang katanya negara agraris itu tak mungkin kekurangan pangan klo saja para para penguasanya sedikit lebih punya hati
Kalau saja para penguasa itu tidak ribut untuk memperkaya diri sendiri
Kalau saya mereka tidak cukup angkuh dan bangga berfoya-foya di atas uang rakyat
Kalau saja para penguasa itu mampu membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat miskin
Kalau saja kebijakan impor diubah, standar hidup petani meningkat, diversifikasi pangan, aaaaachhhh!!!!

Tidak… tidak…
Itu terlalu jauh….
Aku sudah cukup skeptis, pesimis dan muak dengan tingkah laku para penguasa itu!!
ada koruptor bebas berkuasa, ada suap di kasus BLBI, bukan berita baru….. huuuuugh!!!!!

Lantas, apakah cukup dengan sedih, cukup dengan prihatin melihat fenomena ini??
Tentunya saja tidak cukup….
Sepeti kata seorang kawan, "Meski kami tidak mengerti bagaimana melakukan sesuatu yang besar untuk bangsa kami, setidaknya tunjukkanlah kami kesempatan-kesempatan kecil setiap harinya.." Mari sedikit menengadahkan tangan untuk tanah air kita. Mulai menoleh kanan kiri adakah Saudara kita yang sedang membutuhkan bantuan. Dan tentunya sedikit menyisihkan penghasilan kita buat mereka akan menjadi sesuatu yang sangat berarti untuk mereka. Tak usah terlalu sibuk mencari siapa yang salah dari semua ini, karena sudah tak ada waktu. Mereka sedang menunggu, menunggu uluran tangan kita! Mari… jangan sampai ada Ny. Basse-Ny. Basse atau Teguh Teguh yang lain kembali menghentak nurani kita.

Sementara itu, bolehlah kita terus berharap bahwa negara kita akan berubah. Bahwa para penguasa itu akan sadar akan dosa-dosa mereka.
Apakah aku pemimpi?? Tak apalah bermimpi dan berharap, krn hanya dgn itu kita bisa terus bertahan.

"…..u might say I’m a dreamer, but I’m not the only one…."

under: Uncategorized

Older Posts »

Categories