header image

Setelah disahkan, what next???? We’ll see….

Posted by: -aNNa- | November 1, 2008 |

Hmmmm… benernya udah capek n males banget nimbrung ngomongin lg masalah satu ini. cmn kok ya disela kejar2an dgn deadline thesis submission masih tergelitik juga utk sekedar kembali berkomentar ttg issue ini (lagi). dikit aja dech… hwehehehe… :D

Hebat memang UU Pornografi ini! melalui perdebatan yg sangat panjang dan proses yg sangat tidak singkat, tercatat sejak 1997 saat Suharto masih berkuasa, means more than 10 thn!!! Jelas2 bukan isu yg baru! But its amazing how we can see mulai dari politisi, para kaum intelektual di perguruan tinggi, artis, dr pejabat sampai pekerja kasar, obrolan2 ringan di public transport, sampai anak2 usia sekolah pun masih begitu asyik berdiskusi tentang UU ini. Milis2 pun tak kalah semarak oleh diskusi pro kontra dgn sederet argumen2 cerdas, bahkan setelah RUU sudah disahkan menjadi UU!! Luar biasa… as far as I know barangkali ini satu2nya UU yg mampu melibatkan smua kalangan turut ribut berbicara, UU yg mampu membuat repot dan kalang kabut para anggota DPR yg terhormat sampai meminta dukungan ke mana2 untuk mengetok palu pengesahannya. Kesan yg tertangkap, napa yak kok DPR seolah begitu ketakutan?? lah sadar fungsi gak mrk duduk di dewan itu utk apa? lagian sudah resikolah duduk di “kursi” yg katanya nyaman itu psti byk kritik dan tantangan. Seharusnya mrk lebih takut dikritik krn banyak korupsi, menghisap uang rakyat drpd ketakutan krn mengesahkan UU Pornografi! :P

Apa tho yg sebenarnya paling bermasalah dr UU ini?? Anda akan mendapatkan jawaban yg berbeda-beda dari sudut pandang yg berbeda pula. Rasanya saya sepakat ini bukan soal setuju atau tidak setuju pada pornografi itu sendiri namun lebih masalah substantif materi UU-nya. Disahkan ataupun tidak ini bukan semata soal kalah menang. Sebagian ada yg takut nantinya UU ini akan mematikan kreasi seni dan budaya daerah, bertentangan dgn HAM, bentuk lain diskriminasi bahkan kriminalisasi thd perempuan, dan yg paling merakyat, ketakutan nantinya akan ada sweeping ttg pola berpakaian masyarakat umum. Hmmm… tidakkah ketakutan yg terlalu berlebihan???

Satu hal yg jelas, masalah pornografi jelas bukan semata sekedar masalah moral! Kajian2 ilmiah pun sudah membuktikan pornografi dan pornokasi berkorelasi sangat erat dgn permasalahan2 sosial (aborsi, pedophilia, pelecehan seksual dll). Pun menurut pendapat saya, saya kira seniman2 kita cukup kreatif utk tidak mengembangkan bakat seni terbatas pada konteks yg bias pornografi. Agaknya akan lebih baik kita melihat UU ini lebih positif. Ini memang bukan UU yang sempurna (meski dlm hati sering berpikir, mestinya para anggota DPR yg bergaji tinggi itu mampu menciptakan produk UU yg sedikit lebih detail sehingga tidak bias makna :P ). Namun inilah produk hukum, seperti pisau bermata dua, bisa menikam sekaligus dari dua sisi. Sesempurna apapun tetap memungkinkan adanya celah yg dpt dimaanfatkan oleh kepentingan yg berbeda. Anyway saya sepakat bagaimanapun substansi penyusunan UU ini adalah demi kebaikan bersama, utk menentang deras arus pornografi yg telah menciptakan efek domino penyakit sosial. Ada baiknya kita tidak terjebak dgn ketakutan2 yang berlebihan akan pelaksanaan UU ini.

Well, inilah kita, potret bangsa yg begitu majemuk dgn ke bhinneka-an nya. Sangat sulit (klo tak boleh dibilang tidak mungkin) menyatukan semua aspirasi dalam satu wadah. Inikah konsekuensi demokrasi??? Yups…mungkin……! suka gak suka, adil gak adil “pokoknya” demokrasi?!!! pemenang adalah suara terbanyak. yg pilih walk out ya monggoo… hehehe :D

Jauh dari hiruk pikuk pelaksanaan UU ini di negara tercinta di seberang sana, sy cm bs berharap dan berdoa semoga UU ini bs dimaknai secara positif, diterapkan sebagaimana mestinya. UU adalah sebuah alat, bukan tujuan akhir. Dalam prosesnya kita akan sama2 belajar dan menjadikannya lebih baik. Semoga tidak menambah lagi rentetan produk mubadzir krn sudah cukup byk “harga” yg harus dibayar untuk pengesahan UU ini. Amiiinnn amiiiinnn yaa robbal ‘alaamiiiinnnnn…..:)

Anna,

* yg begitu pesimis & skeptis, namun tetap menyimpan secercah harapan :)

under: Uncategorized

Leave a response -

Your response:

Categories