header image

What an unforgettable moment!

Posted by: -aNNa- | May 12, 2007 | No Comment |

mmmh….

Finally, get back home! Back to real life
Here it is, my lovely home and my lovely family :)
BUT……
There’s something lost here, inside…
Some parts of my heart still crying for the memories left behind

Still remember first day in Denpasar,
Thinking about what a tiresome and boring days would that be in the next six weeks
Then I pray to God, hopefully everything would be just fine

And, after run through day by day, minute by minute, second by second,
I got more than I wish, got more than I thought, HE gave me more than I asked

EAP 6 Weeks in IALF Denpasar…….
Definitely, somewhat unforgettable moment in my life :)

One of best thing ever happens in my life…
Thanks for Jeanette 4 being our lovely teacher
Thanks for all my dearest friends
So many things happen in 6 weeks, more than what we can imagine, isn’t it?
Tyas, Flo, Mr. Tommo, Donny, Dian,  Ranee, Mr. Ito, Mbak Yuni, Mbak Imas, P Budi and Inge
+ Mb Lely & P Bayu (Pak Lurah ‘n Bu Lurahnya kelas sebelah ;p) + all frenz in 6wB

Its so so great to have all of you in my 6 weeks life ;)
‘n pliizz 4give me if I might hurt u.

“If there is a parallel universe out there, perhaps I would happy to change some part of my life, but definitely not with this precious last 6 weeks moments!”

So, c u again guys, somewhere in time…. :>

under: Uncategorized

SANDARAN HATI

Posted by: -aNNa- | February 27, 2007 | No Comment |

yakinkah ku berdiri
di hampa tanpa tepi
bolehkah aku mendengar-MU

terkubur dalam emosi
tak bisa bersembunyi
aku dan nafasku
merindukan-MU

terpurukku di sini
teraniaya sepi
dan ku tahu pasti
KAU menemani

dalam hidupku
kesendirianku

teringat ku teringat
pada janji-MU ku terikat
hanya sekejap ku berdiri
kulakukan sepenuh hati
peduli ku peduli
siang dan malam yang berganti
sedihku ini tak ada arti
jika KAU lah sandaran hati
KAU lah sandaran hati

ini kah yang KAU mau
benarkah itu jalan-MU
hanyalah Engkau yang kutuju

pegang erat tanganku
bimbing langkah kakiku
aku hilang arah
tanpa hadir-MU

dalam gelapnya
malam hariku

LETTO - tRUTH, cRY aNd LiE

==============================

Lagu ini, OST sinetron yg nyaris tiap hari terdengar
hanya saja, biasanya, masuk telinga kiri keluar telinga kanan
(maaf, mungkin krn saya bukan pecinta sinetron!:p)
 
namun sore ini, menikmati setiap bait liriknya
ada yang terasa berbeda
baru sadar, ternyata lirik2nya begitu religius
sejenak mampu menggiring jiwa ke tempat yang jauh lebih sejuk
mungkin memang saat dalam kesendirian seperti ini
baru aku bisa merasakan kerinduan padaMU
rindu untuk bersandar
berdiri, menghadapMU, sepenuh hati
sepertinya sudah cukup aku hilang arah
bangunkan aku dari buta mataku
jangan biarkan aku tenggelam dalam mimpi indahku
sudah cukup aku terjebak di dunia maya tersingkir dari dunia nyata
aku (ternyata) butuh sandaran
untuk memastikan aku dapat tetap berdiri…

under: Music

Forest Gump

Posted by: -aNNa- | February 24, 2007 | No Comment |

Life is like a box of chocolate
You never know what you gonna get

I don’t know which one is right?
if we each have a destiny
OR
if rather float around accidentally like on a breeze
but i think maybe its both
maybe both happen in the same time :-/

-tom hanks in FOREST GUMP-

gReAt MoViE!!

under: Film

COKLAT

Posted by: -aNNa- | February 17, 2007 | 1 Comment |

hmmm… banyak orang bilang coklat itu enak
ibuku salah satu dari sekian orang penggila coklat
aku bukan pembenci coklat
tapi yang jelas aku juga bukan penggemar coklat

pagi ini… di depanku ada sekotak coklat
sekotak yang berisi banyak coklat berbentuk oval
katanya seh… ni coklat lezzzzaaat banget!
ah masa’ seh?! paling juga rasanya coklat ya gitu2 aja
maka aku biarkan saja sekotak coklat itu terdampar di tempatnya

iseng aku baca artikel di koran
eh, ada artikel tentang coklat!
katanya makan coklat bisa meredakan stress!! apa iya??!!
tiba-tiba tergerak juga aku pengen membuktikan

akhirnya aku buka juga kotak coklat itu
aku makan, satu biji, dua biji, udah! stop!!
ternyata aku tetap gak bisa suka makanan satu ini!
tapi… bener juga bebanku jadi terasa ringan..??!
sugesti atau..??? halah.. gak ada hubungannya kali ya? hehehe

jadi inget kurang lebih 2 tahun yang lalu,
dapet kado ultah dari salah seorang sahabat
sekotak coklat yang dibungkus kotak pensil warna merah
made by his own hand! cantik banget kotaknya
saat itu aku pun aku juga bukan penggemar coklat
tapi tetap saja aku makan coklatnya,
well, its not really that bad
mungkin karena datang dari tulusnya sayang seorang sahabat?
thanks ya Ant :)

sekotak coklat di pagi ini….
membuatku berpikir lagi tentang banyak hal
tentang waktu
tentang hidup, persahabatan dan cinta :-?

under: Uncategorized

Move Out!!!!

Posted by: -aNNa- | February 14, 2007 | 1 Comment |

Setelah tertunda beberapa bulan akhirnya terusir juga dari ruanganku tercinta…:-((

ni deh ribetnya pindahan!! packing2 trus nata lagi smuanya dari awal!!! uugh…
mana koneksi internet sebelum pindah dah diputus!
eh ternyata di gedung baru koneksi juga blom dipasang!!
ya jadi deh lama gak bisa online di kampus…:-(
ni aja mesti online dari tetangga!!

gedung baruku… lebih mirip ruang isolasi daripada tempat kerja
lantai putih n licin! gak kebayang beceknya klo ujan, trus mesti jalan super pelan2
mana ruanganku di lantai dua lagi!!
trus lagi, puanas puol!! AC ada tp blom nyala!! hiks….

Uuuugh…
kok dari tadi isinya mengeluh terus ya??!!
tp gpp…
gedung baru, ruangan lebih luas…
bisa buat main sepatu roda!! hehehe
terisolasi tapi privasi lebih terjaga lah…:-)

ruang baru…
semoga membawa semangat yang baru!
chayo2…!! ;>

under: Uncategorized

kemerdekaan…???!!!

Posted by: -aNNa- | January 29, 2007 | 2 Comments |

“Adapun kemerdekaan adalah hak segala bangsa… ”

Sebuah kalimat menemukan maknanya dalam sebuah keinginan. Pada tahun 1940-an, kalimat itu gamblang dengan sendirinya: kata ”kemerdekaan”, seperti juga kata ”bangsa” dan ”hak”, diperjelas oleh hasrat dekolonisasi.

Pada masa itu kolonialisme-ketika sebuah wilayah dijadikan bagian kekuasaan dari luar dirinya-telah dianggap kejam dan tak wajar. Maka, ”kemerdekaan” berarti kesempatan untuk memiliki sebuah wilayah hidup sendiri. Tak ada di hari itu satu suara pun yang mempersoalkan benarkah ”kemerdekaan” hanya berarti itu.

Tak ada menggugat, bukankah antara ”merdeka” dan ”berwilayah” bisa terjadi hubungan yang ganjil? Bukankah dalam ”kesempatan untuk memiliki sebuah wilayah hidup sendiri”, yang penting adalah penghargaan kepada hidup? Dan bukankah ”hidup” tak niscaya berkait dengan sebuah ruang dengan batas-batas yang definitif? Sebuah satuan teritorial bagaimanapun bukanlah sebuah sumber, bukan sebuah fondasi, dari ”hidup” ataupun ”kemerdekaan”. Ia hanya sesuatu yang secara aksidental terkait, mungkin sebuah instrumen. Ia tak membuat hidup menjadi hidup dan membuat kesempatan serta merta terbuka.

Tapi pada hari-hari ini saya dengar orang masih bicara tentang kedaulatan dan kemerdekaan, ruang hidup dan teritorium. Di Jakarta orang menghendaki ”keutuhan wilayah nasional”. Di Lhokseumawe: ”Aceh merdeka”, dan di Wamena: ”Papua merdeka”. Pada saat ini saya teringat akan kisah Zainab yang diculik dan Buta Singh yang bunuh diri. Saya teringat India, Pakistan, tahun 1947.

Saya teringat akan apa yang terjadi ketika sebagian penduduk India memilih ruang hidup tersendiri, menjadi sebuah bangsa tersendiri, dan Pakistan pun lahir. Kejadian bersejarah itu disebut ”Partition”. Seperti setiap kejadian bersejarah, ia mengandung sesuatu yang dahsyat.

Dalam sebuah buku yang mencoba merekam apa yang terjadi di masa itu, The Other Side of Silence, Urvashi Butalia menggambarkan kedahsyatan itu sebagai kebengisan. ”Belum pernah sebelum dan sesudahnya begitu banyak orang bertukar rumah dan negeri dengan cara yang demikian lekas. Dalam jarak waktu hanya beberapa bulan, sekitar 12 juta manusia bergerak antara wilayah India yang baru yang terpenggal, dan dua sayap di barat dan di timur, yang membentuk negeri yang baru diciptakan itu, Pakistan.”

Dalam proses itu, ketegangan kian jadi seperti demam yang gila antara mereka yang berpindah ke Pakistan-hampir semuanya orang Islam-dan mereka memilih berada di India. Bentrokan, pembantaian dan pemerkosaan berlangsung. Sekitar satu juta orang tewas. Sekitar 75 ribu perempuan diculik dan diperkosa. Ribuan keluarga berpisah, rumah dihancurkan, panen ditinggalkan hingga busuk, dusun ditelantarkan. Berjuta-juta manusia bergerak, sebagian besar berjalan kaki dalam rombongan besar disebut ”kafilah”, yang terkadang begitu panjang sehingga makan waktu delapan hari lamanya seluruh barisan selesai melalui satu tempat.

Dalam tragedi itu ada Zainab. Ia seorang gadis muslim yang diculik dari sebuah kafilah yang lewat. Tak jelas sudah berapa tangan yang telah menjamahnya. Yang tercatat hanya ini: Zainab akhirnya dijual ke seseorang yang hidup di distrik Amritsar, Buta Singh namanya.

Seperti ditentukan adat, Buta Singh, yang belum beristri, menjalani sebuah upacara untuk mengawini Zainab. Konon, mereka kemudian ternyata saling mencintai. Zainab melahirkan dua anak perempuan. Sebuah keluarga pun terbentuk. Tapi Pemisahan masih terus mengerkah korbannya.

Beberapa tahun setelah 1947, serombongan orang dari Pakistan datang ke Amritsar. Mereka mencari Zainab. Tak jelas kenapa mereka tiba-tiba muncul. Ada yang menduga bahwa adik Buta Singh yang mengundang. Mereka takut kalau kelak anak-anak Zainab akan mengurangi bagian dari milik tanah keluarga. Dan Zainab tak punya pilihan lain. Dengan menggendong si bungsu dan sebuah buntelan kecil pakaiannya, ia masuk ke dalam sebuah jip yang telah menunggu. Ia sendiri tak tahu kepada siapa ia akan kembali. Pada hari-hari Pemisahan dulu orang tuanya terbunuh dan hanya seorang saudara kandung perempuan yang tinggal.

Di Amritsar yang ditinggalkan, Buta Singh berusaha agar Zainab kembali. Tapi sia-sia. Pada suatu hari ia diber tahu bahwa istrinya yang telah hidup nun jauh di Pakistan itu akan dipaksa menikah oleh keluarganya yang masih hidup. Buta Singh segera menjual tanah miliknya, menyiapkan diri menyusul. Tapi Pemisahan telah membentuk tapal batas, dan tak gampang bergerak dari wilayah India ke wilayah Pakistan, terutama ketika dua negeri itu sedang berseteru. Buta Singh tak putus asa. Ia pun memutuskan untuk jadi warga negara Pakistan. Ia masuk Islam. Ia berganti nama jadi Jamil Ahmad. Ketika dengan segala susah payah ini ia pun ditolak, ia pun masuk ke Pakistan dengan visa jangka pendek.

Tapi di negeri itu, ia lupa melapor ke pejabat setempat – dan melanggar sebuah aturan yang berlaku bagi orang India yang datang ke Pakistan dan sebaliknya. Di depan hakim, ia mengisahkan maksud kedatangannya: ia ingin menemukan istrinya kembali. Maka Zainab pun didatangkan sebagai saksi. Tapi perempuan itu, dijaga ketat oleh keluarganya, menampiknya. ”Saya kini sudah menikah. Saya tak berurusan lagi dengan laki-laki itu. Ia boleh membawa kembali anak yang dulu saya bawa dari rumahnya….”

Esok harinya, Buta Singh membiarkan tubuhnya tergilas kereta api. Di saku bajunya ada sepucuk surat. Ia minta dikuburkan di dusun Zainab. Tapi permintaan ini pun ditolak. Sebab, sudah ada petugas imigrasi, ketentuan paspor dan visa, dan segala tanda kedaulatan.

Dua negeri telah lahir, bebas dari kolonialisme.

Ya, ”kemerdekaan adalah hak segala bangsa….”

- Catatan Pinggir, Goenawan Mohamad -

under: Uncategorized

my first blogs

Posted by: -aNNa- | January 28, 2007 | 1 Comment |

hmmm….

Alhamdulillah…

kata yang sering terucap namun kadang tak sarat makna

Detik ini, dlm udara panas kota Malang ini,

entah knapa tiba-tiba terhentak keinginan tulus

untuk berterima kasih pada NYA

Tuhan…

kiranya cukup lama hamba tidak pernah mengucapkan rasa syukur ini dengan sepenuh hati

Dari lembah hati terdalam hamba,

terima kasih, untuk memberi kesempatan pada hamba untuk menghirup udara bumi-Mu sampai detik ini

terima kasih, untuk semua candaMu, atas nama takdirMu, yang mewarnai jalan hidup hamba

terima kasih, untuk Ibu yang Kau ciptakan untukku, yang dalam kasihnya bisa kurasakan kasihMu

terima kasih, matur nuwun Gusti……

nb: i luv u Mom… ^_^

under: Uncategorized

« Newer Posts

Categories